Just sharing:)

7 09 2010

Beberapa hari yang lalu saya pergi ketaman perumahan bersama anak saya. Ditaman tersebut ada beberapa anak yang sedang bermain. Beberapa mainan ayunan, beberapa mainan jungkat jungkit dan beberapa lagi bermain prosotan/meluncur( apa istilah indonesianya ya?:) )

Saya membawa anak saya, Nickei, 2th, untuk bermain prosotan. Baru mendekat ke arah prosotan itu, tiba tiba anak yang lagi bermain berkata dengan keras:

“Eh kamu siapa? Kamu bukan teman kita! Kamu ga boleh main disini!”

Betapa kagetnya saya mendengar kalimat tersebut.

Saya timpali  : “Kenapa ga boleh? “

Anak                : “Pokoknya ga boleh!”   sambil teriak

Daripada ribut saya ajak anak saya bermain yang lain. Ditaman  itu ada beberapa ortu, tidak hanya saya. Sesaat bermain permainan yang lain, saya baru tahu kalau ternyata si anak yang berkata sedemikian kerasnya terhadap saya  ternyata ortunya ada disitu juga.

Saya tidak habis pikir, saya yakin sekali ortunya mendengar apa yang dikatakannya kepada saya dan anak saya,karena jaraknya hanya 2 -3 mtr dari tempat kejadian ketika saya di”semprot” dengan kata –kata yang kasar tersebut. Tapi mengapa dia tidak menegur kata-kata anaknya?

Mengapa kata kata kasar yang biasanya hanya terdapat di sinetron itu bisa keluar dari anak seorang anak kecil? Dan lebih hebatnya lagi  si ortu yang ada didekat tempat kejadian, tidak menegur anaknya? Bukankah itu adalah taman umum? Taman perumahan dimana setiap orang boleh dan berhak untuk  bermain? Lain masalah jika taman itu adalah taman pribadinya.

Saya jadi mikir: ini anak masih kecil ngomongnya sudah kasar, bagaimana besok ketika semakin  besar? Bukankah anak adalah hasil didikan kita? ANAK KITA SEKARANG ADALAH HASIL DARI PENDIDIKAN YANG SELAMA INI KITA TERAPKAN  KETIKA ANAK MASIH KECIL DARI SEKARANG.

Ditempat yang sama pula ,saya mengalami kejadian yang sungguh sangat kontras. Kalau tadi anak berkata sedemikian kasarnya dibiarkan oleh orang tuanya, diarea permainan yang lain saya justru  menemui orangtua yang  justru mengajari anaknya untuk bersama-sama bermain dan bergantian dengan anak saya.

Benar benar suatu hal yang kontras saya alami secara bersamaan di taman tersebut. Perbedaan pendidikan /pola asuh pada anak oleh ortu. Pertama  adalah anak yang dibiarkan berkata kasar dan tidak diajari untuk bertoleransi dengan sesama . Kedua adalah anak yang diajarkan untuk saling berbagi dan bermain bersama.

Ingatlah : anak kecil belajar dengan cara melakukan . Ketika anak melakukan dan ternyata salah/kurang benar dan  kemudian kita hanya mendiamkan saja tanpa menegur atau memberikan contoh apa yang seharusnya dilakukan, maka anak akan menganggap apa yang mereka lakukan sudah benar dan sudah selayaknya dilakukan.

Dalam kesempatan ini ijinkan pula saya mengucapkan :

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

MOHON MAAF LAHIR & BATIN

Mohon maaf jika selama ini ada kata2 yang tidak berkenan dalam postingan saya selama ini.

Salam hidup lebih baik

Jimmy K Santosa

Trainer Sekolah Orangtua

http://www.sekolahorangtua.com


Aksi

Information

2 responses

7 09 2010
MENONE

waaaaahhhhh………………..anak adalah cermin orang tua…………

selamat hariraya idul fitri…mohon maaf lahir dan batin….salam

7 09 2010
jimmyksantosa

SELAMAT IDUL FITRI JUGA BU….MOHON MAAF LAHIR BATIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: