Berapa MENIT-kah kita bersama dengan anak?

13 12 2010

Bagi anda yang kerja mungkin menganggap pertanyaan saya wajar.

Bagi anda yang merawat anak anda dirumah sepanjang hari , mungkin anda akan bertanya

“ Yang bener aja berapa MENIT? Ya pasti JAM lah….!”

“ Tentu hampir 24 jam dong pak! Kan tiap hari sama anak dari pagi, siang sampai malam”

Bener begitu?  Yakini berjam-jam?

Coba sekarang…

Mulai dari anda bangun pagi, kalau kebetulan anak anda belum bangun padahal sudah waktunya bangun anda akan bilang:

“Hei, Ayo bangun, udah pagi…cepetan mandi, ntar telat sekolahnya kalau ga bangun”

Habis itu anak pergi mandi, ketika lagi mandi

“ Cepatan mandinya, ini segera makan ya! Udah disiapin di meja makan”

Ketika anak sudah selesai mandi dan makan , anda bilang:

“Semuanya sudah ga ada yang ketinggalan? Buku? PR? “

Kemudian anak anda berangkat.

Pulang dari sekolah , anda akan bilang:

“Cepetan copot seragamnya, ya sana sekarang makan siang ya”

Dan setelah itu anda sibuk dengan urusan anda, membiarkan anak anda bermain sendiri . Ketika waktu tidur siang(jika ada) anda akan bilang: “ Ayo sekarang tidur siang”

Kemudian anda sibuk lagi dengan urusan rumah tangga anda. Dan anda mungkin akan bilang selanjutnya :

“ Ayo mandi udah sore”

“Udah cukup mainnya, udah magrib”

“Ayo makan malam sekarang”

“Udah malam, ayo tidur”

Nah kalau dihitung-hitung kalimat tadi, apakah ada dalam hitungan JAM? Jadi berapa lama anda bersama dengan anak anda? Yang selama ini kita rasakan kebersamaan seringkali hanya kebersamaan secara fisik, namum bukan kebersamaan secara emosional.

Seberapa sering dan lama anda bermain dengan anak anda, mendengarkan cerita mereka? Silahkan anda instropeksi berapa lama dalam satu hari anda benar benar hadir secara emosional dan fisik dengan anak anda. Apakah sudah dalam hitungan JAM? Kalau sudah berapa JAM?

Anak membutuhkan kita secara emosi, dan bukan di”interogasi” dengan pernyataan atau pertanyaan seperti diatas: “sudah makan belum”,  “sudah ngerjain pr belum”, “ udah belajar belum “ dan teman-temannya.

Bukan berarti saya tidak memperbolehkan kalimat diatas, hanya yang saya mau tekankan, penuhi pula kebutuhan emosi anak, perhatikan perasaannya. Jadi jangan hanya memerhatikan anak ketika anak hanya sedang dalam masalah .

 

Semoga bermanfaat

Salam hidup lebih baik

 

Jimmy K Santosa

Trainer Sekolah Orangtua

www.sekolahorangtua.com

Terapis

www.klinikhipnoterapijakartabekasi.com

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: